Diatas Langit Impian

kitalah yang mengisi waktu menjadi terbaik dan luarbiasa

Aku dan Ayah terhebat

Pertahananku, pahlawanku

Ibu dan Ayah penolong ku hidup ku

Tempat ku bertahan sampai dilangit sana.

hanya aku

melawan waktu

Sahabat terbaik

berbagi dalam suka duka

Rabu, 03 Juni 2015

Cerita Cinta ku 1

aku berdoa mencari jawaban untuk menemukanmu.
saat semua aktifitas terselesaikan, ku naikkan selimut dan kulipat tangan "Tuhan, jaga dia untukku malam ini, aku akan mempersiapkan diri sebelum Kau pertemukan dengan pangeranku" setiap malam aku memanjatkan doa untuk mu. menyebutkan satu persatu seperti apa pria yang akan menjadi pasangan ku nanti, banyak yang aku minta dihadapan Tuhan hingga apa yang sebenarnya menjadi prioritas itu yang harus aku minta. Tuhan sudah tau apa yang terbaik untuk ku, jadi agar tidak salah mencari pasangan hidup aku mendoakan kriteria itu kepada Tuhan. Jika semua kriteria sesuai dengan Tuhan maka aku mulai mendoakan nya sampai kami dipertemukan. jatuh bangun aku dalam setiap membangun hubungan, membuat ku menyerahkan sepenuhnya hidupku didalam Tuhan dan membiarkan Tuhan yang campur tangan. sampai nanti kita bertemu dan tanpa ragu untuk saling berbagi didalam Tuhan.

Selasa, 02 Juni 2015

corat coret

aku tau konsekuensi jika kali ini aku melakukan hal buruk ini lagi, aku tau apa yang akan kuhadapi dua kali ditahun 2015. aku sebenarnya gak pengen marah yang menyebabkan emosi ku terpancing dan tanpa sadar banyak hal buruk yang ku lakukan satu harian ini. melihat orang lain buruk tanpa melihat diri ini juga buruk sama seperti yang aku pikirkan ke orang lain. aku benci sepi, aku benci kesendirian, aku benci dengan hal yang membuat pikiran ku penuh dengan amarah.

PETER

Ini kisah tentang Peter, seorang anak berkebutuhan khusus, yang direkam dalam sebuah film dokumenter. Oleh undang-undang di Amerika, Peter yang down syndrom harus sekolah di sekolah umum. Alasannya macam-macm. Tapi intinya undang-undang itu bertujuan menyiapkan anak-anak berkebutuhan khusus untuk bisa hidup di dalam masyarakat “normal”.
Undang-undang tersebut menimbulkan pro dan kontra. Sebagian orangtua keberatan karena keberadaan anak-anak down syndrom akan menghambat atau memperlambat perkembangan ajar mengajar di sekolah anak-anak “normal”. Nah, di tengah kontroversi itulah film dokumenter tersebut dibuat.
Film ini mengisahkan sepak terjang Peter selama belajar di sebuah SD di kotanya. Semua kegiatan Peter direkam oleh kamera yang selalu mengikutinya. Sejak dari rumah, naik bus sekolah, belajar di kelas, bermain di luar ruang, sampai mengikuti pelajaran olahraga dan kesenian.
Proses pengambilan gambar dilakukan selama satu tahun. Mulai sejak  hari pertama Peter masuk sekolah sampai dia dinyatakan lulus. Di film ini diperlihatkan bagaimana reaksi guru dan murid-murid yang satu kelas dengan Peter.
Terekam dengan jelas dalam pembukaan film, bagaimana sifat agresif Peter di dalam kelas membuat guru dan murid-murid lain frustasi. Tak pernah bisa diam, Peter selalu membuat gaduh dan rusuh. Bocah berwajah mongoloid ini  bisa tiba-tiba mendorong dan memukul kepala teman-teman yang berada di dekatnya. Bahkan di kamar mandi diperlihatkan bagaimana Peter mencengkram, mendorong, dan mencekik seorang anak teman kelasnya.
Dari hari ke hari, sikap Peter tidak berubah. Dia bisa tiba-tiba membenturkan kepala dua temannya tanpa merasa bersalah. Bahkan dalam rekaman di film itu terlihat Peter menendang wajah seorang murid yang hanya bisa menunduk dan menangis.  Bagaimana raksi teman-temannya? Tidak satu pun yang memberikan perlawanan. Mereka hanya menghindar, memohon Peter untuk tidak kasar, atau menangis diam-diam.
Ulah Peter itu membuat suasana belajar di kelas tiga SD itu terganggu. Sang guru yang dimintai pendapatnya mengaku frustasi dan putus asa menghadapi ulah Peter. “Saya tidak bisa membayangkan bagaimana harus bersama-sama Peter sepanjang tahun,” keluh sang guru.
Demikian pula teman-teman Peter yang dimintai komentarnya. “Saya tidak suka Peter. Saya membencinya,” ujar seorang murid laki-laki.
“Mengapa dia harus ada di antara kami,” ujar murid yang lain. Singkat kata, Peter menjadi “musuh” bersama. Guru dan murid-murid di kelas itu frustasi karena harus bisa menerima bahwa Peter “berbeda” dan oleh karena itu kelakuannya harus bisa dipahami.
Ketika tingkat rasa frustasi di kelas itu semakin meningkat, pihak sekolah akhirnya meminta bantuan seorang psikolog. Satu per satu murid diwawancarai dan dimintai pendapatnya tentang Peter. Hasilnya kurang lebih sama: mereka membenci Peter. Mereka berharap Peter tidak lagi berada di kelas itu.
Sang psikolog dan murid-murid kemudian mendiskusikan bagaimana sebaiknya menghadapi ulah Peter yang “istimewa” itu. Sang psikolog  memberi pemahaman kepada murid-murid mengapa Peter berperilaku seperti itu dan mengajak mereka untuk membantu Peter agar berubah. Peter bukan harus dimusuhi, tetapi justru harus dicintai dan ditolong.
Setelah itu, film kembali merekam hari-hari Peter. Perilakunya belum berubah, tetapi cara teman-temannya memperlakukan Peter sungguh mengharukan. Mereka terlihat mencoba untuk “memahami” perilaku Peter. Jika awalnya mereka menjauh, sekarang murid-murid dengan sabar menemani dan “membimbing” Peter.
Minggu berganti minggu. Diperlihatkan juga bagaimana murid-murid perempuan memerankan peran ibu dengan membantu Peter menyiapkan makanan pada jam istirahat dan makan dengan cara yang benar. Begitu juga jika Peter ngambek, maka murid-murid perempuan bergantian merayu dan membujuk Peter. “Saya tidak mengajarkan hal itu kepada mereka. Tetapi, secara naluriah para murid perempuan terdorong berperan sebagai ibu bagi Peter,” ujar sang ibu guru.
Menjelang akhir tahun ajaran, diperlihatkan betapa teman-teman sekelasnya, yang sering diperlakukan kasar oleh Peter, sudah berubah menjadi “pembimbing” yang menyayangi Peter. Bahkan seorang murid perempuan yang sebangku dengan Peter diperlihatkan tak kenal lelah membantu Peter menyelesaikan tugas-tugas sekolah.
Pada bulan kesembilan, kamera merekam adanya perkembangan yang signifikan dalam perilaku Peter. Walau kadang masih terlihat  mengamuk, secara keseluruhan Peter mulai mau melakukan tugas-tugas yang diberikan guru. Dia juga sudah tidak terlalu mengganggu murid-murid sesering yang terlihat di awal-awal film.
Singkat kata, setahun hampir berakhir. Sang guru yang awalnya frustasi atas perilaku Peter, kini berbalik seratus delapan puluh derajat. Jika pada awal kehadiran Peter dia mengeluh apakah sanggup “hidup bersama” Peter selama satu tahun, ternyata kini justru mengaku sulit membayangkan hari-hari ke depan tanpa Peter di kelasnya. Sang guru sudah begitu jatuh cinta pada Peter.
Bahkan dalam wawancara dengan kru televisi, dia mendukung agar Peter bisa melanjutkan pendidikannya ke kelas empat. “Peter layak untuk duduk di kelas empat,” dia menegaskan dukungannya bagi Peter. “Jika ada yang meragukannya, saya orang pertama yang akan meyakinkan bahwa Peter layak naik kelas.”
Dan yang sangat mengejutkan adalah pendapat teman-teman sekelas Peter yang juga diwawancarai di akhir film tersebut. Murid-murid yang pada awal film mengatakan mereka tidak suka -- bahkan membenci -- Peter, justru mengungkapkan perasaan sayang mereka terhadap Peter.
Seorang murid yang paling sering mendapat perlakuan kasar dari Peter, dan di awal film mengaku harus menahan amarahnya atas perlakuan Peter, justru mengungkapkan isi hatinya yang tak terduga. “Peter adalah sahabat sejatiku,” ujarnya. “Semua anak-anak di kelas adalah anak-anak normal. Tapi aku merasa Peter adalah sahabat sejatiku,” dia menegaskan. Murid itu juga mengaku sedih harus berpisah dengan Peter.
Adegan berikutnya sungguh mengharukan. Terlihat di situ Peter merangkul bocah tadi, seakan tak ingin berpisah. Sang bocah yang mengaku Peter adalah sahabat sejatinya, juga mengikuti kemana Peter melangkah.
Sementara seorang murid perempuan yang selalu membantu Peter, ketika diwawancarai mengatakan, “ Selama ini kita merasa kitalah yang mengajari Peter. Tetapi, sejujurnya, kitalah yang belajar dari Peter.” Ketika dikejar dengan pertanyaan mengapa dia berpendapat seperti itu, sang murid menjawab, “Karena kita hanya mengajarkan Peter untuk melakukan sesuatu yang biasa kita lakukan. Tetapi, tanpa kita sadari Peter mengajarkan kita untuk menghadapi masalah dan memecahkannya.”
Sulit rasanya percaya dari mulut seorang bocah kelas tiga SD kita mendengarkan jawaban sebijak itu. Hampir semua anak kemudian mengaku pada awalnya membenci Peter yang selalu mengganggu dan menyakiti mereka. Tetapi justru pada saat-saat perpisahan, mereka mengaku Peter adalah teman yang akan mereka rindukan.
Di sini kita dihadapkan pada satu kenyataan, bagaimana seorang bocah down syndrome yang awalnya sulit diterima di lingkungan yang “normal”, akhirnya menjadi sahabat dan akan dirindukan oleh teman-temannya.
Film ini juga mengajarkan kita betapa penerimaan kita pada “anak-anak spesial” yang berbeda akan membawa perubahan. Bukan saja perubahan bagi anak tersebut, tetapi juga pada anak-anak “normal” .
Film dokumenter ini segera mengingatkan saya pada pertemuan saya dengan anak-anak istimewa seperti Peter selama saya memandu acara Kick Andy. Anak-anak yang sering “tidak diterima” di lingkungannya karena perilakunya dianggap aneh. Anak-anak yang kemudian dikucilkan dari pergaulan.
Saya juga sering bertemu para orangtua yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus seperti Peter yang merasa putus asa dan menyalahkan diri mereka karena melahirkan anak yang tidak sama dengan anak-anak lain. Para orangtua ini kemudian tenggelam dalam kesedihan yang semakin menghancurkan.
Sudah banyak cerita yang kita dengar atau lihat, betapa sekolah umum menolak anak-anak berkebutuhan khusus. Selain diyakini akan menghambat proses ajar mengajar, para guru juga banyak yang tidak siap secara mental menerima murid spesial seperti itu.
Kisah tentang Peter, saya harapkan memicu kesadaran kita tentang hak anak-anak berkebutuhan khusus atas pendidikan dan hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dengan anak-anak “normal” . Kasih sayang, kesabaran, dan cinta yang diberikan guru dan murid-murid di film itu terbukti mampu mengubah Peter. Mereka memberi kesempatan kepada Peter untuk bisa tumbuh dan berkembang agar kelak dapat hidup “normal” di tengah masyarakat.
Jika saja kesadaran ini tumbuh dalam diri kita masing-masing, saya yakin anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia tidak akan menjadi beban.  Kita berharap anak-anak ini kelak bisa hidup di tengah masyarakat secara wajar. Jangan biarkan ketidaksabaran dan kekurangpedulian kita menghancurkan masa depan mereka. Di ambil dari KickAndy

Bias Pikir Dan Bias Rasa

Apa tanda orang munafik yang paling kentara? Tak satunya antara kata dan perbuatan. Bagaimana cara kita mengetahui seseorang memiliki sifat munafik? Orang tersebut mengetahui aturan, bahkan membuat aturan, tetapi tak konsisten melaksanakannya. Inilah yang saat ini terjadi di tengah masyarakat kita, di mana baik individu maupun kelompok, seperti sedang sama-sama menikmati euforia kebebasan berpikir dan berkehendak atas nama kebebasan dan demokrasi, tetapi abai dalam mengendalikan emosi.
Proses pendidikan kita yang terlalu menekankan perkembangan kognitif jelas berbuah panjang hingga saat ini. Orientasi kepada hasil yang ditandai dengan nilai ujian seakan harga mati, dan selalu tak berbanding lurus dengan pengembangan kapasitas emosi siswa. Akibatnya anak-anak memiliki bias pikir dan bias rasa yang tak seimbang, dan itu menyebabkan perilaku aneh dan menyimpang kerap kita temukan di kalangan anak-anak sekolah, seperti kasus geng motor di Bali beberapa waktu lalu, misalnya.
Gubernur Bali, saking kagetnya, spontan memberikan reaksi yang membuat kita harus berpikir ulang bagaimana cara kita mendidik anak-anak di sekolah, yaitu dengan mengatakan bahwa ada yang salah dengan sistem pendidikan di Bali. Kejadian ini serupa jika dibandingkan dengan perilaku para politikus kita yang sering menyembunyikan kejujuran, sambil berpura-pura tak tahu bahwa mereka telah melakukan kerusakan sedemikian rupa tatanan kehidupan masyarakat kita.
Pendek kata, proses pendidikan yang tak seimbang antara pikir dan rasa inilah salah satu ujung petaka kemanusiaan di Indonesia. Adagium tradisi dan budaya yang kerap menyebut masyarakat Indonesia hidup saling hormat-menghormati seakan pupus oleh begitu banyaknya penyimpangan perilaku tak berkeadaban seperti tawuran antar warga, warga melawan polisi, sekolah versus sekolah, dan yang lebih parah dinodai pula dengan prasangka atas nama agama dan suku bangsa.
Jelas sistem pendidikan kita memerlukan road-map baru dalam menggagas tema karakter santun, ramah dan saling menghargai. Mungkin baik untuk menimbang komposisi kurikulum pendidikan kita yang lebih berorientasi kognitif ke arah yang ramah afektif dan psikomotorik. Dalam prakteknya, antara mata ajar sains, sosial sains, humaniora dan seni-budaya harus proporsional diajarkan, baik dari aspek durasi maupun substansi. Kurangnya mata ajar humaniora dan seni-budaya di sekolah, menurut beberapa temuan riset, yang rentan menjadikan anak-anak berperilaku menyimpang di tengah masyarakat.
Professor Antonio Damasio (2006) menyebutkan, hari ini sistem pendidikan hampir di seluruh belahan dunia tumbuh pembedaan yang sangat signifikan antara proses pembelajaran yang berorientasi kognitif dan emosional. Menyelami empati dan rasa tak memperoleh porsi yang jelas dalam struktur pendidikan kita, sehingga anak-anak kita cenderung dididik untuk menjadi semacam robot yang minim rasa. Dalam pandangan Damasio, seharusnya pendidikan seni budaya dan humaniora diseimbangkan jumlah durasi dan substansinya, untuk dan dalam rangka menumbuhkan elan vital kemanusiaan manusia, yaitu emosi dan spiritualitas yang menyatu dalam pikir dan perilaku. Minimnya durasi dan substansi proses pembelajaran yang mengasah rasa inilah yang salah satunya menyebabkan menurunnya moralitas masyarakat modern.
Menyeimbangkan pikir dan rasa dalam praktek pasti akan menumbuhkan sifat menghargai antara satu dengan yang lain, dan kondisi ini sejalan dengan fakta betapa majemuknya masyarakat Indonesia. Hilangnya kesadaran kolektif kita sebagai sebuah bangsa yang majemuk lebih banyak disebabkan oleh ketidak-efektifan kebijakan kurikulum kita yang kurang menimbang dalam menyeimbangkan rumpun dan mata ajar yang ada.
Jika kebijakan soal distingsi kurikulum ini terus diabaikan, jangan harap tujuan pendidikan nasional seperti tertera dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 akan mampu diwujudkan. Kebijakan pendidikan yang saat ini lebih berorientasi pada hasil pasti akan berdampak buruk bagi masa depan Indonesia. Tujuan, hakikat dan pemaknaan pendidikan yang serba hasil ini memperlihatkan lemahnya sistem pendidikan yang dibangun, sehingga elan dasar pendidikan kita seakan tak pernah bertemu dengan jiwa atau ruh yang selalu menjadi batang tubuh pendidikan nasional, yaitu “berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Sangat tidak mungkin rasanya jika pembuktian seluruh agenda pendidikan nasional seperti tertera dari tujuan di atas diselesaikan oleh sebuah mata rantai yang bernama ujian nasional (UN) sebagai bentuk pertanggungjawabannya. Hampir semua indikator dan tujuan pendidikan nasional di atas adalah sebuah nafas panjang dari sebuah usaha dan proses yang tidak akan pernah berakhir (never ending process), karena hampir semua pilihan kata yang digunakan adalah kata sifat (adjective) yang menuntut usaha secara terus menerus.
Kombinasi pikir dan rasa yang efektif akan melahirkan arti dan nilai (meaning and value) yang berkelanjutan dalam perilaku siswa. Dialektika antara otoritas pendidikan, sekolah, masyarakat dan siswa seharusnya mencerminkan visi dan filosofi pendidikan yang sehat, yang ditunjukkan pada keseimbangan struktur kurikulum dan proses belajar-mengajar yang benar, aktif dan menyenangkan. Kebijakan soal kurikulum kita saat ini seakan memperpendek visi pendidikan menjadi sekedar tumpukan soal dan membuang lebih banyak waktu untuk melakukan drilling dalam rangka mempersiapkan siswa mereka dalam menghadapi ujian (Jones: 1999). Di ambil dari KickAndy

Harga Mati Sebuah Toleransi

yang harus pertama diketahui toleransi itu apa? istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda. ada yang hanya sekedar tau apa itu toleransi, tapi gak tau gimana menerapkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Toleransi itu berlaku buat siapa dan untuk apa? Toleransi berlaku untuk semua orang, anak-anak, orang dewasa, kerabat bahkan orang tua, untuk apa adanya toleransi? agar tidak terjadi perpecahan antar umat beragama dan maupun sesama umat beragam, adanya kemajuan dalam aspek kehidupan dan masih banyak hal lain. bagaimana jika sebuah toleransi tidak ada dalam kehidupan sehari-hari? akan muncul berbagai konflik antar umat beragama, sesama kelompok dan kehidupan sosial dalam bermasyarakat bahkan yang lebih mengerikan adanya kekerasan yang terjadi. Indonesia tempat kita tinggal terdapat banyak suku, agama, dan ras ada pula pembeda golongan, ada golongan atas yang memiliki uang banyak dan golongan bawah yang hanya bisa menghidupi kebutuhan sehari-hari. Harga mati sebuah toleransi perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari terutama di Negeri tercinta Indonesia, hilangnya toleransi menyebabkan hilangnya simbol negara Pancasila yang berbunyi persatuan Indonesia tak hanya itu Negara kepulauan yang dimiliki Indonesia yang telah diperjuangkan oleh pahlawan melawan penjajah pun akan sia-sia, pulau-pulau yang ada akan mendirikan negara disetiap pulaunya, jika itu terjadi masih kah kita di sebut Indonesia dengan Negara Persatuan? Akankah Indonesia menjadi Indonesia atau hanya Negara yang akan kehilangan kepulauannya.

mari kita bersama membangun Negara yang telah diperjuangkan Pahlawan kita, yang ingin Negaranya bebas dari penjajah dan rakyatnya tentran dimasa mendatang.
happy enjoying .-.

Cerita ini sekarang hidup sekarang mati

Teori yang baru aja terlintas diminggu siang saat aku melintasi jalanan yang ada didaerah kuta, Denpasar Bali, aku melihat begitu banyak melintas didepan mata ku, lampu merah menyebabkan ku berimajinasi dengan jalanan lalu lalang dan sedikit mengamati bagaimana penuhnya dunia ini sekarang. Terlintas pertanyaan aneh kenapa banyak orang meninggal saat kecelakaan? Maut sudah ditentukan sama Tuhan, terkecuali ada nya niat bunuh diri sudah pasti ditentukan sama yang mau bunuh diri bukan Tuhan yang menentukan, ada yang bilang itu sudah takdirnya meninggal dengan cara seperti itu (bunuh diri, kecelakaan) emmmm... Jika banyak manusia datang (lahir) kedunia semakin banyak ??? Kita lanjut besok

Senin, 01 Juni 2015

Ayah penolongku

Saat seorang ayah menyelamatkan aku dari maut, banyak hal yang mulai aku sadari betapa besar kasihNya untuk anakNya.  Setelah aku tumbuh menjadi gadis remaja dan mengenal lingkungan yang menurutku banyak terjadi hal mengerikan, kedengkian, rasa iri aku dapat melihatnya karena mereka  melihat betapa hebatNya Ayahku. Adakah orang tak marah ketika ayahNya dihina dengan makian  kejam?  Aku rasa semua akan marah, aku ingin triak dan memaki tepat dihadapan muka yang tak tau diri itu. Semua kembali Ayah ku kembali mengingatkan bagaimana pekerjaan sebuah kasih yang tidak menghakimi dan tidak membalas apapun yang orang lain perbuat kepada mu. Walau sakit semua tetap harus terjadi jika aku menjadi anakNya. Gak ada yang berhak menghakimi orang lain, karena semua manusia berdosa dan memiliki salah. Hari itu akan tiba, rasa sakit dan hinaan setiap orang harus dipertanggung jawabkan. Tidak ada yang bisa menghindari . 
Happy reading guys