Ini kisah tentang Peter, seorang anak berkebutuhan khusus, yang direkam
dalam sebuah film dokumenter. Oleh undang-undang di Amerika, Peter yang
down syndrom harus sekolah di sekolah umum. Alasannya
macam-macm. Tapi intinya undang-undang itu bertujuan menyiapkan
anak-anak berkebutuhan khusus untuk bisa hidup di dalam masyarakat
“normal”.
Undang-undang tersebut menimbulkan pro dan kontra. Sebagian orangtua keberatan karena keberadaan anak-anak
down syndrom
akan menghambat atau memperlambat perkembangan ajar mengajar di sekolah
anak-anak “normal”. Nah, di tengah kontroversi itulah film dokumenter
tersebut dibuat.

Film ini mengisahkan sepak terjang Peter selama belajar di sebuah SD di
kotanya. Semua kegiatan Peter direkam oleh kamera yang selalu
mengikutinya. Sejak dari rumah, naik bus sekolah, belajar di kelas,
bermain di luar ruang, sampai mengikuti pelajaran olahraga dan kesenian.
Proses pengambilan gambar dilakukan selama satu tahun. Mulai sejak
hari pertama Peter masuk sekolah sampai dia dinyatakan lulus. Di film
ini diperlihatkan bagaimana reaksi guru dan murid-murid yang satu kelas
dengan Peter.
Terekam dengan jelas dalam pembukaan film, bagaimana sifat agresif
Peter di dalam kelas membuat guru dan murid-murid lain frustasi. Tak
pernah bisa diam, Peter selalu membuat gaduh dan rusuh. Bocah berwajah
mongoloid ini bisa tiba-tiba mendorong dan memukul kepala teman-teman
yang berada di dekatnya. Bahkan di kamar mandi diperlihatkan bagaimana
Peter mencengkram, mendorong, dan mencekik seorang anak teman kelasnya.
Dari hari ke hari, sikap Peter tidak berubah. Dia bisa tiba-tiba
membenturkan kepala dua temannya tanpa merasa bersalah. Bahkan dalam
rekaman di film itu terlihat Peter menendang wajah seorang murid yang
hanya bisa menunduk dan menangis. Bagaimana raksi teman-temannya? Tidak
satu pun yang memberikan perlawanan. Mereka hanya menghindar, memohon
Peter untuk tidak kasar, atau menangis diam-diam.
Ulah Peter itu membuat suasana belajar di kelas tiga SD itu terganggu.
Sang guru yang dimintai pendapatnya mengaku frustasi dan putus asa
menghadapi ulah Peter. “Saya tidak bisa membayangkan bagaimana harus
bersama-sama Peter sepanjang tahun,” keluh sang guru.
Demikian pula teman-teman Peter yang dimintai komentarnya. “Saya tidak
suka Peter. Saya membencinya,” ujar seorang murid laki-laki.
“Mengapa dia harus ada di antara kami,” ujar murid yang lain. Singkat
kata, Peter menjadi “musuh” bersama. Guru dan murid-murid di kelas itu
frustasi karena harus bisa menerima bahwa Peter “berbeda” dan oleh
karena itu kelakuannya harus bisa dipahami.
Ketika tingkat rasa frustasi di kelas itu semakin meningkat, pihak
sekolah akhirnya meminta bantuan seorang psikolog. Satu per satu murid
diwawancarai dan dimintai pendapatnya tentang Peter. Hasilnya kurang
lebih sama: mereka membenci Peter. Mereka berharap Peter tidak lagi
berada di kelas itu.
Sang psikolog dan murid-murid kemudian mendiskusikan bagaimana
sebaiknya menghadapi ulah Peter yang “istimewa” itu. Sang psikolog
memberi pemahaman kepada murid-murid mengapa Peter berperilaku seperti
itu dan mengajak mereka untuk membantu Peter agar berubah. Peter bukan
harus dimusuhi, tetapi justru harus dicintai dan ditolong.
Setelah itu, film kembali merekam hari-hari Peter. Perilakunya belum
berubah, tetapi cara teman-temannya memperlakukan Peter sungguh
mengharukan. Mereka terlihat mencoba untuk “memahami” perilaku Peter.
Jika awalnya mereka menjauh, sekarang murid-murid dengan sabar menemani
dan “membimbing” Peter.
Minggu berganti minggu. Diperlihatkan juga bagaimana murid-murid
perempuan memerankan peran ibu dengan membantu Peter menyiapkan makanan
pada jam istirahat dan makan dengan cara yang benar. Begitu juga jika
Peter
ngambek, maka murid-murid perempuan bergantian merayu dan
membujuk Peter. “Saya tidak mengajarkan hal itu kepada mereka. Tetapi,
secara naluriah para murid perempuan terdorong berperan sebagai ibu bagi
Peter,” ujar sang ibu guru.
Menjelang akhir tahun ajaran, diperlihatkan betapa teman-teman
sekelasnya, yang sering diperlakukan kasar oleh Peter, sudah berubah
menjadi “pembimbing” yang menyayangi Peter. Bahkan seorang murid
perempuan yang sebangku dengan Peter diperlihatkan tak kenal lelah
membantu Peter menyelesaikan tugas-tugas sekolah.
Pada bulan kesembilan, kamera merekam adanya perkembangan yang
signifikan dalam perilaku Peter. Walau kadang masih terlihat mengamuk,
secara keseluruhan Peter mulai mau melakukan tugas-tugas yang diberikan
guru. Dia juga sudah tidak terlalu mengganggu murid-murid sesering yang
terlihat di awal-awal film.
Singkat kata, setahun hampir berakhir. Sang guru yang awalnya frustasi
atas perilaku Peter, kini berbalik seratus delapan puluh derajat. Jika
pada awal kehadiran Peter dia mengeluh apakah sanggup “hidup bersama”
Peter selama satu tahun, ternyata kini justru mengaku sulit membayangkan
hari-hari ke depan tanpa Peter di kelasnya. Sang guru sudah begitu
jatuh cinta pada Peter.
Bahkan dalam wawancara dengan kru televisi, dia mendukung agar Peter
bisa melanjutkan pendidikannya ke kelas empat. “Peter layak untuk duduk
di kelas empat,” dia menegaskan dukungannya bagi Peter. “Jika ada yang
meragukannya, saya orang pertama yang akan meyakinkan bahwa Peter layak
naik kelas.”
Dan yang sangat mengejutkan adalah pendapat teman-teman sekelas Peter
yang juga diwawancarai di akhir film tersebut. Murid-murid yang pada
awal film mengatakan mereka tidak suka -- bahkan membenci -- Peter,
justru mengungkapkan perasaan sayang mereka terhadap Peter.
Seorang murid yang paling sering mendapat perlakuan kasar dari Peter,
dan di awal film mengaku harus menahan amarahnya atas perlakuan Peter,
justru mengungkapkan isi hatinya yang tak terduga. “Peter adalah sahabat
sejatiku,” ujarnya. “Semua anak-anak di kelas adalah anak-anak normal.
Tapi aku merasa Peter adalah sahabat sejatiku,” dia menegaskan. Murid
itu juga mengaku sedih harus berpisah dengan Peter.
Adegan berikutnya sungguh mengharukan. Terlihat di situ Peter merangkul
bocah tadi, seakan tak ingin berpisah. Sang bocah yang mengaku Peter
adalah sahabat sejatinya, juga mengikuti kemana Peter melangkah.
Sementara seorang murid perempuan yang selalu membantu Peter, ketika
diwawancarai mengatakan, “ Selama ini kita merasa kitalah yang mengajari
Peter. Tetapi, sejujurnya, kitalah yang belajar dari Peter.” Ketika
dikejar dengan pertanyaan mengapa dia berpendapat seperti itu, sang
murid menjawab, “Karena kita hanya mengajarkan Peter untuk melakukan
sesuatu yang biasa kita lakukan. Tetapi, tanpa kita sadari Peter
mengajarkan kita untuk menghadapi masalah dan memecahkannya.”
Sulit rasanya percaya dari mulut seorang bocah kelas tiga SD kita
mendengarkan jawaban sebijak itu. Hampir semua anak kemudian mengaku
pada awalnya membenci Peter yang selalu mengganggu dan menyakiti mereka.
Tetapi justru pada saat-saat perpisahan, mereka mengaku Peter adalah
teman yang akan mereka rindukan.
Di sini kita dihadapkan pada satu kenyataan, bagaimana seorang bocah
down syndrome yang awalnya sulit diterima di lingkungan yang “normal”,
akhirnya menjadi sahabat dan akan dirindukan oleh teman-temannya.
Film ini juga mengajarkan kita betapa penerimaan kita pada “anak-anak
spesial” yang berbeda akan membawa perubahan. Bukan saja perubahan bagi
anak tersebut, tetapi juga pada anak-anak “normal” .
Film dokumenter ini segera mengingatkan saya pada pertemuan saya dengan
anak-anak istimewa seperti Peter selama saya memandu acara Kick Andy.
Anak-anak yang sering “tidak diterima” di lingkungannya karena
perilakunya dianggap aneh. Anak-anak yang kemudian dikucilkan dari
pergaulan.
Saya juga sering bertemu para orangtua yang memiliki anak-anak
berkebutuhan khusus seperti Peter yang merasa putus asa dan menyalahkan
diri mereka karena melahirkan anak yang tidak sama dengan anak-anak
lain. Para orangtua ini kemudian tenggelam dalam kesedihan yang semakin
menghancurkan.
Sudah banyak cerita yang kita dengar atau lihat, betapa sekolah umum
menolak anak-anak berkebutuhan khusus. Selain diyakini akan menghambat
proses ajar mengajar, para guru juga banyak yang tidak siap secara
mental menerima murid spesial seperti itu.
Kisah tentang Peter, saya harapkan memicu kesadaran kita tentang hak
anak-anak berkebutuhan khusus atas pendidikan dan hak untuk mendapatkan
perlakuan yang sama dengan anak-anak “normal” . Kasih sayang, kesabaran,
dan cinta yang diberikan guru dan murid-murid di film itu terbukti
mampu mengubah Peter. Mereka memberi kesempatan kepada Peter untuk bisa
tumbuh dan berkembang agar kelak dapat hidup “normal” di tengah
masyarakat.
Jika saja kesadaran ini tumbuh dalam diri kita masing-masing, saya
yakin anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia tidak akan menjadi
beban. Kita berharap anak-anak ini kelak bisa hidup di tengah
masyarakat secara wajar. Jangan biarkan ketidaksabaran dan
kekurangpedulian kita menghancurkan masa depan mereka. Di ambil dari
KickAndy