Diatas Langit Impian

kitalah yang mengisi waktu menjadi terbaik dan luarbiasa

Aku dan Ayah terhebat

Pertahananku, pahlawanku

Ibu dan Ayah penolong ku hidup ku

Tempat ku bertahan sampai dilangit sana.

hanya aku

melawan waktu

Sahabat terbaik

berbagi dalam suka duka

Selasa, 18 Agustus 2015

Wasiat

Disuatu desa yang sangat kecil hisuplah dua orang anak, beserta kedua orang tuanya. Ayah dari anak itu mengalami sakit keras dan menyadari sebentar lagi akan pergi meninggalkan keluarganya. Ayah tersebut menitipkan wasiat kepada kedua anaknya, "Nak, sebelum ayah meninggalkan dunia ini, ayah mempunyai dua pesan untuk kalian jalani." "Baik ayah." Jawab kedua anak tersebut, "Dengarkan baik-baik." yang pertama jangan menagih hutang kepada siapapun dan yang kedua, jangan keluar diterik matahari." "Baik ayah." Mereka hanya menganggukkan kepala, tidak menanyakan kenapa ayah memberikan wasiat seperti itu kepada anaknya. Dari saat itu si Sulung mening ditingalkan rumah untuk memulai kehidupan begitupun dengan si Bungsu yang juga pergi meninggalkan rumah, hanya seorang wanita tua yang hidup sendirian dirumahnya kini, yaitu sang ibu dari si Sulung dan si Bungsu yang kini pergi merantau untuk mendapatkan rupiah.
Waktu berlalu begitu cepat, sudah tiga tahun ia jauh dari anaknya, sang ibu pun memutuskan untuk mengunjungi anaknya yang sudah merindukan kedua anaknya.  Perjalanan yang ditempuh melewati rumah si Bungsu maka ibu pundatang menghampiri si Bungsu, tak disangka kondisi si Bungsu tak seperti apa yang ibunya bayangkan, kondisi tak memprihatinkan dan menyayat hati ibu. Dari luar wanita tua ini tak percaya bahwa ini toko si Bungsu, Tokonya terlihat kotor seperti tidak dibersihkan, banyak sampah yang berada di depan toko si Bungsu hal yang sama terjadi pada bagian dalamnya kebutuhan yang dijual tidak lengkap dan hanya sedikit yang hanya bisa dia jual. "Nak, kenapa barang yang kamu jual sangat sedikit?" "Ini semuakan karena Ayah," Ibunya lalu terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh si Bungsu "Kenapa kamu mengatakan karena ayah Bungsu?" "Iya, ayah\ penyebab semua, pertama ayah menyuruh ku jangan pernah menagih hutang kepada siapapun, maka dari itu aku membiarkan mereka mengambil barang yang ada ditoko ku, dan akupun tidak pernah menagih hutang itu lagi dna yang kedua, Ayah menyuruhku jangan sampai aku terkena terik matahari, karena aku hanya mempunya motor, aku putuskan untuk naik taxi supaya tidak terkena matahari dan kini uang ku habis untuk naik taxi dan membiarkan mereka membawa pulang barang ku." Ibu tersebut hanya diam dan tertunduk lesu mendengar pernyataan dari si Bungsu dan tak berapa lama ibu itu pamit kepada si Bungsu untuk mengunjungi si Sulung. Saat sampai ditempat si Sulung ibunya terkejut melihat apa yang ada didepan matanya, keadaan si Sulung berbeda dengan si Bungsu. Toko yang dimiliki si Sulung sangat lengkap dan bersih sangat jauh berbeda dengan saudaranya Ibu pun berkata : "Sulung mengapa tokomu begitu lengkap dan rapi, apa saja yang kamu lakukan?" Tanya si ibu. Sulung: "Bu, ini semua berkat wasiat yang ayah berikan kepada ku," Sang ibupun terkejut "Bagaimana bisa itu karena wasiat ayahmu?" Tanyanya kepada si Sulung dengan rasa penasaran, karena apa yang di lakukan si Bungsupun sama dengan si Sulung tapi hasil yang mereka dapatkan berbeda. "Ayah memberiku dua wasiat yang pertama, jangan menagih hutang, jadi barang yang jual tidak aku hutangkan dan mereka hanya dapat membeli dengan uang cash (secara langsung) dan yang kedua,  ayah menyuruhku untuk jangan sampai terkena terik matahari, jadi aku datang dan membuka toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam." Apa yang di ucapkan si Sulung membuat ibunya menjadi tercengang tak berkata apapun.
Well, kenapa wasiat yang diberikan ke pada kedua anaknya menghasilkan hasil yang berbeda? Karena si Sulung percaya dan tidak menyimpan keraguan kepada Ayahnya, dia percaya apa yang ayahnya titipkan tidak akan pernah mengecewakan untuk dirinya, sedangkan si Bungsu tidak begitu, dia tidak percaya bahwa ayahnya akan membantunya lewat wasiat yang dititipkan, dia merasa apa yang dilakukan menjadi sia-sia. Tak hanya percaya, si Sulung pun semasa ayahnya hidup dia selalu membantu ayahnya berjualan ditoko, sehingga saat ayahnya pergi meninggalkan semua wasiat itu menjadi penuntunnya untuk sukses.

*Tuhan, tidak menciptakan manusia tanpa bakat (Talenta) dan Tuhan tidak menciptakan manusia hanya sekedar hidup dan menikmati dunia. Jika kamu belum menemukan bakat mu carilah dan andalkan Tuhan. mengandalkanNya membuat mu mudah melewati segala proses*

Selasa, 11 Agustus 2015

Kesombongan

Empat tipe kesombongan.
1. Ketika kita beranggapan apa yang kita miliki adalah hasil keringat kita sendiri.
2. Ketika kita merasa berhak mendapatkannya.
3. Ketika kita beranggapan bahwa diri kita memiliki sesuatu kebaikan yang tidak kita miliki. Contoh : Kita katakan bahwa kita memiliki sesuatu seperti kejujuran, yang padahal kita tidak memilikinya.
4. Ketika kita menghendaki diunggulkan dari yang lain dan kita menjatuhkan yang lain dg kritik dan merusak. :)
Dan tipe kesombongan yang paling umum adalah mencintai diri sendiri secara berlebihan,
dengan melihat kecakapan kita sebagai sesuatu yang berasal dari diri kita sendiri bukan Tuhan. Itulah sebabnya mengapa orang dikuasai kesombongan itu, buta terhadap kelemahan-kelemahannya, sementara orang yang tidak sombong akan berupaya mengubah kelemahan-kelemahannya menjadi kebaikan. Kesombongan akan menghancurkan hubungan kita dengan orang lain. Kesombongan bisa muncul dalam banyak cara.
1. Kritikan
2. Persaingan
3. Dan tidak mau mengalah

Ada yang salah dengan kesombongan, yaitu menipu diri sendiri,  orang lain bisa melihatnya didalam diri kita tapi kita tidak bisa melihatnya. Jika kamu memiliki masalah dengan kesombongan, kamu tidak akan bisa melihatnya dalam hidupmu.


** Jadilah apa yang seharusnya terjadi, jangan memaksakan sesuatu terjadi sesuai keinginan diri sendiri **

Senin, 10 Agustus 2015

Cerita Cinta ku 2

Lanjut nulis bagian dua sekarang...
hmmmm... akhirnya ada waktu jugaaa....

Saat ini pagi sudah menampakkan diri dengan semilir angin yang menyejukkan. Bagiku tak ada beda udara yang menyapaku tetap sejuk dan menenangkan....
Aku duduk dan menikmati susu hangat dijendela ruang kamar, mataku tertuju pada pepohonan hijau  indah yang bergoyang bersama dengan angin. Aku tersentak dengan suara yang datang dari alarm jam weker yang berdering. ''Baiklah ternyata alarm yang aku setel salah waktu". Pikiran yang tadinya tenang membuatku linglung seketika, aku mulai memikirkan seseorang tetapi kali ini seorang (pria) itu bukanlah pria yang selama ini ada dalam setiap doa ku, bagiku dia hanya seperti hembusan angin sementara yang begitu saja melewati. kenapa? dia masih terasa, bukan dia yang aku impikan dan bukan dia yang aku ceritakan. Bukan!!! Dia membuatku sulit untuk memejamkan mata dan dia membuatku selalu memikirkannya sepanjang malam. "Oh berhentilah". Biarkan aku menatap apa yang sudah aku mulai, pergilah jika kau memang ingin pergi, berlarilah sekuat kamu mau dan jangan menoleh kepada ku lagi (sedikitpun) jika kamu berani menoleh, aku pun pasti akan menyetujuinya karena disinilah kelemahanku mulai dipermainkan oleh perasaan. Ijinkan aku kembali dengan apa yang pernah aku mulai tanpa adanya hembusan angin yang kau tiupkan melalui hari ku. Kamu yang sejak awal menjadi pilihanku, meski tidak sedikitpun kamu tahu tentang bagaimana aku memperjuangkan mu, aku akan tetap bersabar. :)

Puisi Hadirmu

Wajahmu memalingkan dunia ku
Memudarkan pandangan mata
Membutakan sekitar
Tapi tidak denganmu...
Melihatmu, memandangmu
Sudah cukup buatku
Merasakan arti hadirmu....
Merasakah kau, aku
Disini mengintaimu....
Tak sadarkah kau, hadirmu
Mengubah hidupku
Dirimu datang dan memberi arti

Puisi Kamu

Belum berjumpa setelah pertemuan itu
Belum ada tanda
setelah pertemuan terakhir itu
Kamu.... akankah kita
Kembali berjumpa
meski....
Kau tak tahu diri ini
Tak mudah aku melupakanmu
Pertemuan yang hanya kilas
Tak membuat memori
Dengan cepat, menghilalang dan memudar
Datanglah... datanglah...
Aku menunggu disini
Datanglah... datanglah...
Aku masih tetap disini

Puisi Hati ini



Aku melihatmu dengan penuh
Menatapmu dengan kasih
menahan diri menunggumu
Menantikan dirimu datang
Menjemputku
Mungkinkah kau datang
Kembali kemari?
Jauh setelah ini, akupun banyak berharap
Kau akan datang menemaniku....

Puisi Kedua kali



Datang kembali, hadir
Disetiap jam
Suara itu, nyaman dan menyentuh
Kubuka mata perlahan
Berdiri dan berirama...
Sungguh tak ada lagi
Ingin mengulangnya kembali
Saat kamu datang dan berdiri
Dan tak ingin melewatkannya...

Puisi Kerinduanku



Dia datang dengan kerinduan
Menyapamu dengan penuh kasih
Tak peduli bagaimana mereka
Melihat air mata ini jatuh
Diri ini akan tetap merindu dan memujimu...
Engkau yang kini selalu hadir
Dan tak pernah jauh
Meski ku tahu sebenarnya
Kita tak pernah berjumpa
Tapi hati ini... yakin...
Cintamu lah yang ku mau....

Puisi dalam diamku



Aku tak menanyakan siapa dirimu
Sekilas melihatmu, mataku
Tak ingin memalingkannya
Getaran-getaran
Yang tak pantas dirasa
Sekejap menjadi pantas
Mungkinkah mengagumi
Dalam sekejap....
Biarlah hati ini
Yang menentukannya
Ketika jumpa itu menyapa lagiss

Rabu, 03 Juni 2015

Cerita Cinta ku 1

aku berdoa mencari jawaban untuk menemukanmu.
saat semua aktifitas terselesaikan, ku naikkan selimut dan kulipat tangan "Tuhan, jaga dia untukku malam ini, aku akan mempersiapkan diri sebelum Kau pertemukan dengan pangeranku" setiap malam aku memanjatkan doa untuk mu. menyebutkan satu persatu seperti apa pria yang akan menjadi pasangan ku nanti, banyak yang aku minta dihadapan Tuhan hingga apa yang sebenarnya menjadi prioritas itu yang harus aku minta. Tuhan sudah tau apa yang terbaik untuk ku, jadi agar tidak salah mencari pasangan hidup aku mendoakan kriteria itu kepada Tuhan. Jika semua kriteria sesuai dengan Tuhan maka aku mulai mendoakan nya sampai kami dipertemukan. jatuh bangun aku dalam setiap membangun hubungan, membuat ku menyerahkan sepenuhnya hidupku didalam Tuhan dan membiarkan Tuhan yang campur tangan. sampai nanti kita bertemu dan tanpa ragu untuk saling berbagi didalam Tuhan.

Selasa, 02 Juni 2015

corat coret

aku tau konsekuensi jika kali ini aku melakukan hal buruk ini lagi, aku tau apa yang akan kuhadapi dua kali ditahun 2015. aku sebenarnya gak pengen marah yang menyebabkan emosi ku terpancing dan tanpa sadar banyak hal buruk yang ku lakukan satu harian ini. melihat orang lain buruk tanpa melihat diri ini juga buruk sama seperti yang aku pikirkan ke orang lain. aku benci sepi, aku benci kesendirian, aku benci dengan hal yang membuat pikiran ku penuh dengan amarah.

PETER

Ini kisah tentang Peter, seorang anak berkebutuhan khusus, yang direkam dalam sebuah film dokumenter. Oleh undang-undang di Amerika, Peter yang down syndrom harus sekolah di sekolah umum. Alasannya macam-macm. Tapi intinya undang-undang itu bertujuan menyiapkan anak-anak berkebutuhan khusus untuk bisa hidup di dalam masyarakat “normal”.
Undang-undang tersebut menimbulkan pro dan kontra. Sebagian orangtua keberatan karena keberadaan anak-anak down syndrom akan menghambat atau memperlambat perkembangan ajar mengajar di sekolah anak-anak “normal”. Nah, di tengah kontroversi itulah film dokumenter tersebut dibuat.
Film ini mengisahkan sepak terjang Peter selama belajar di sebuah SD di kotanya. Semua kegiatan Peter direkam oleh kamera yang selalu mengikutinya. Sejak dari rumah, naik bus sekolah, belajar di kelas, bermain di luar ruang, sampai mengikuti pelajaran olahraga dan kesenian.
Proses pengambilan gambar dilakukan selama satu tahun. Mulai sejak  hari pertama Peter masuk sekolah sampai dia dinyatakan lulus. Di film ini diperlihatkan bagaimana reaksi guru dan murid-murid yang satu kelas dengan Peter.
Terekam dengan jelas dalam pembukaan film, bagaimana sifat agresif Peter di dalam kelas membuat guru dan murid-murid lain frustasi. Tak pernah bisa diam, Peter selalu membuat gaduh dan rusuh. Bocah berwajah mongoloid ini  bisa tiba-tiba mendorong dan memukul kepala teman-teman yang berada di dekatnya. Bahkan di kamar mandi diperlihatkan bagaimana Peter mencengkram, mendorong, dan mencekik seorang anak teman kelasnya.
Dari hari ke hari, sikap Peter tidak berubah. Dia bisa tiba-tiba membenturkan kepala dua temannya tanpa merasa bersalah. Bahkan dalam rekaman di film itu terlihat Peter menendang wajah seorang murid yang hanya bisa menunduk dan menangis.  Bagaimana raksi teman-temannya? Tidak satu pun yang memberikan perlawanan. Mereka hanya menghindar, memohon Peter untuk tidak kasar, atau menangis diam-diam.
Ulah Peter itu membuat suasana belajar di kelas tiga SD itu terganggu. Sang guru yang dimintai pendapatnya mengaku frustasi dan putus asa menghadapi ulah Peter. “Saya tidak bisa membayangkan bagaimana harus bersama-sama Peter sepanjang tahun,” keluh sang guru.
Demikian pula teman-teman Peter yang dimintai komentarnya. “Saya tidak suka Peter. Saya membencinya,” ujar seorang murid laki-laki.
“Mengapa dia harus ada di antara kami,” ujar murid yang lain. Singkat kata, Peter menjadi “musuh” bersama. Guru dan murid-murid di kelas itu frustasi karena harus bisa menerima bahwa Peter “berbeda” dan oleh karena itu kelakuannya harus bisa dipahami.
Ketika tingkat rasa frustasi di kelas itu semakin meningkat, pihak sekolah akhirnya meminta bantuan seorang psikolog. Satu per satu murid diwawancarai dan dimintai pendapatnya tentang Peter. Hasilnya kurang lebih sama: mereka membenci Peter. Mereka berharap Peter tidak lagi berada di kelas itu.
Sang psikolog dan murid-murid kemudian mendiskusikan bagaimana sebaiknya menghadapi ulah Peter yang “istimewa” itu. Sang psikolog  memberi pemahaman kepada murid-murid mengapa Peter berperilaku seperti itu dan mengajak mereka untuk membantu Peter agar berubah. Peter bukan harus dimusuhi, tetapi justru harus dicintai dan ditolong.
Setelah itu, film kembali merekam hari-hari Peter. Perilakunya belum berubah, tetapi cara teman-temannya memperlakukan Peter sungguh mengharukan. Mereka terlihat mencoba untuk “memahami” perilaku Peter. Jika awalnya mereka menjauh, sekarang murid-murid dengan sabar menemani dan “membimbing” Peter.
Minggu berganti minggu. Diperlihatkan juga bagaimana murid-murid perempuan memerankan peran ibu dengan membantu Peter menyiapkan makanan pada jam istirahat dan makan dengan cara yang benar. Begitu juga jika Peter ngambek, maka murid-murid perempuan bergantian merayu dan membujuk Peter. “Saya tidak mengajarkan hal itu kepada mereka. Tetapi, secara naluriah para murid perempuan terdorong berperan sebagai ibu bagi Peter,” ujar sang ibu guru.
Menjelang akhir tahun ajaran, diperlihatkan betapa teman-teman sekelasnya, yang sering diperlakukan kasar oleh Peter, sudah berubah menjadi “pembimbing” yang menyayangi Peter. Bahkan seorang murid perempuan yang sebangku dengan Peter diperlihatkan tak kenal lelah membantu Peter menyelesaikan tugas-tugas sekolah.
Pada bulan kesembilan, kamera merekam adanya perkembangan yang signifikan dalam perilaku Peter. Walau kadang masih terlihat  mengamuk, secara keseluruhan Peter mulai mau melakukan tugas-tugas yang diberikan guru. Dia juga sudah tidak terlalu mengganggu murid-murid sesering yang terlihat di awal-awal film.
Singkat kata, setahun hampir berakhir. Sang guru yang awalnya frustasi atas perilaku Peter, kini berbalik seratus delapan puluh derajat. Jika pada awal kehadiran Peter dia mengeluh apakah sanggup “hidup bersama” Peter selama satu tahun, ternyata kini justru mengaku sulit membayangkan hari-hari ke depan tanpa Peter di kelasnya. Sang guru sudah begitu jatuh cinta pada Peter.
Bahkan dalam wawancara dengan kru televisi, dia mendukung agar Peter bisa melanjutkan pendidikannya ke kelas empat. “Peter layak untuk duduk di kelas empat,” dia menegaskan dukungannya bagi Peter. “Jika ada yang meragukannya, saya orang pertama yang akan meyakinkan bahwa Peter layak naik kelas.”
Dan yang sangat mengejutkan adalah pendapat teman-teman sekelas Peter yang juga diwawancarai di akhir film tersebut. Murid-murid yang pada awal film mengatakan mereka tidak suka -- bahkan membenci -- Peter, justru mengungkapkan perasaan sayang mereka terhadap Peter.
Seorang murid yang paling sering mendapat perlakuan kasar dari Peter, dan di awal film mengaku harus menahan amarahnya atas perlakuan Peter, justru mengungkapkan isi hatinya yang tak terduga. “Peter adalah sahabat sejatiku,” ujarnya. “Semua anak-anak di kelas adalah anak-anak normal. Tapi aku merasa Peter adalah sahabat sejatiku,” dia menegaskan. Murid itu juga mengaku sedih harus berpisah dengan Peter.
Adegan berikutnya sungguh mengharukan. Terlihat di situ Peter merangkul bocah tadi, seakan tak ingin berpisah. Sang bocah yang mengaku Peter adalah sahabat sejatinya, juga mengikuti kemana Peter melangkah.
Sementara seorang murid perempuan yang selalu membantu Peter, ketika diwawancarai mengatakan, “ Selama ini kita merasa kitalah yang mengajari Peter. Tetapi, sejujurnya, kitalah yang belajar dari Peter.” Ketika dikejar dengan pertanyaan mengapa dia berpendapat seperti itu, sang murid menjawab, “Karena kita hanya mengajarkan Peter untuk melakukan sesuatu yang biasa kita lakukan. Tetapi, tanpa kita sadari Peter mengajarkan kita untuk menghadapi masalah dan memecahkannya.”
Sulit rasanya percaya dari mulut seorang bocah kelas tiga SD kita mendengarkan jawaban sebijak itu. Hampir semua anak kemudian mengaku pada awalnya membenci Peter yang selalu mengganggu dan menyakiti mereka. Tetapi justru pada saat-saat perpisahan, mereka mengaku Peter adalah teman yang akan mereka rindukan.
Di sini kita dihadapkan pada satu kenyataan, bagaimana seorang bocah down syndrome yang awalnya sulit diterima di lingkungan yang “normal”, akhirnya menjadi sahabat dan akan dirindukan oleh teman-temannya.
Film ini juga mengajarkan kita betapa penerimaan kita pada “anak-anak spesial” yang berbeda akan membawa perubahan. Bukan saja perubahan bagi anak tersebut, tetapi juga pada anak-anak “normal” .
Film dokumenter ini segera mengingatkan saya pada pertemuan saya dengan anak-anak istimewa seperti Peter selama saya memandu acara Kick Andy. Anak-anak yang sering “tidak diterima” di lingkungannya karena perilakunya dianggap aneh. Anak-anak yang kemudian dikucilkan dari pergaulan.
Saya juga sering bertemu para orangtua yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus seperti Peter yang merasa putus asa dan menyalahkan diri mereka karena melahirkan anak yang tidak sama dengan anak-anak lain. Para orangtua ini kemudian tenggelam dalam kesedihan yang semakin menghancurkan.
Sudah banyak cerita yang kita dengar atau lihat, betapa sekolah umum menolak anak-anak berkebutuhan khusus. Selain diyakini akan menghambat proses ajar mengajar, para guru juga banyak yang tidak siap secara mental menerima murid spesial seperti itu.
Kisah tentang Peter, saya harapkan memicu kesadaran kita tentang hak anak-anak berkebutuhan khusus atas pendidikan dan hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dengan anak-anak “normal” . Kasih sayang, kesabaran, dan cinta yang diberikan guru dan murid-murid di film itu terbukti mampu mengubah Peter. Mereka memberi kesempatan kepada Peter untuk bisa tumbuh dan berkembang agar kelak dapat hidup “normal” di tengah masyarakat.
Jika saja kesadaran ini tumbuh dalam diri kita masing-masing, saya yakin anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia tidak akan menjadi beban.  Kita berharap anak-anak ini kelak bisa hidup di tengah masyarakat secara wajar. Jangan biarkan ketidaksabaran dan kekurangpedulian kita menghancurkan masa depan mereka. Di ambil dari KickAndy

Bias Pikir Dan Bias Rasa

Apa tanda orang munafik yang paling kentara? Tak satunya antara kata dan perbuatan. Bagaimana cara kita mengetahui seseorang memiliki sifat munafik? Orang tersebut mengetahui aturan, bahkan membuat aturan, tetapi tak konsisten melaksanakannya. Inilah yang saat ini terjadi di tengah masyarakat kita, di mana baik individu maupun kelompok, seperti sedang sama-sama menikmati euforia kebebasan berpikir dan berkehendak atas nama kebebasan dan demokrasi, tetapi abai dalam mengendalikan emosi.
Proses pendidikan kita yang terlalu menekankan perkembangan kognitif jelas berbuah panjang hingga saat ini. Orientasi kepada hasil yang ditandai dengan nilai ujian seakan harga mati, dan selalu tak berbanding lurus dengan pengembangan kapasitas emosi siswa. Akibatnya anak-anak memiliki bias pikir dan bias rasa yang tak seimbang, dan itu menyebabkan perilaku aneh dan menyimpang kerap kita temukan di kalangan anak-anak sekolah, seperti kasus geng motor di Bali beberapa waktu lalu, misalnya.
Gubernur Bali, saking kagetnya, spontan memberikan reaksi yang membuat kita harus berpikir ulang bagaimana cara kita mendidik anak-anak di sekolah, yaitu dengan mengatakan bahwa ada yang salah dengan sistem pendidikan di Bali. Kejadian ini serupa jika dibandingkan dengan perilaku para politikus kita yang sering menyembunyikan kejujuran, sambil berpura-pura tak tahu bahwa mereka telah melakukan kerusakan sedemikian rupa tatanan kehidupan masyarakat kita.
Pendek kata, proses pendidikan yang tak seimbang antara pikir dan rasa inilah salah satu ujung petaka kemanusiaan di Indonesia. Adagium tradisi dan budaya yang kerap menyebut masyarakat Indonesia hidup saling hormat-menghormati seakan pupus oleh begitu banyaknya penyimpangan perilaku tak berkeadaban seperti tawuran antar warga, warga melawan polisi, sekolah versus sekolah, dan yang lebih parah dinodai pula dengan prasangka atas nama agama dan suku bangsa.
Jelas sistem pendidikan kita memerlukan road-map baru dalam menggagas tema karakter santun, ramah dan saling menghargai. Mungkin baik untuk menimbang komposisi kurikulum pendidikan kita yang lebih berorientasi kognitif ke arah yang ramah afektif dan psikomotorik. Dalam prakteknya, antara mata ajar sains, sosial sains, humaniora dan seni-budaya harus proporsional diajarkan, baik dari aspek durasi maupun substansi. Kurangnya mata ajar humaniora dan seni-budaya di sekolah, menurut beberapa temuan riset, yang rentan menjadikan anak-anak berperilaku menyimpang di tengah masyarakat.
Professor Antonio Damasio (2006) menyebutkan, hari ini sistem pendidikan hampir di seluruh belahan dunia tumbuh pembedaan yang sangat signifikan antara proses pembelajaran yang berorientasi kognitif dan emosional. Menyelami empati dan rasa tak memperoleh porsi yang jelas dalam struktur pendidikan kita, sehingga anak-anak kita cenderung dididik untuk menjadi semacam robot yang minim rasa. Dalam pandangan Damasio, seharusnya pendidikan seni budaya dan humaniora diseimbangkan jumlah durasi dan substansinya, untuk dan dalam rangka menumbuhkan elan vital kemanusiaan manusia, yaitu emosi dan spiritualitas yang menyatu dalam pikir dan perilaku. Minimnya durasi dan substansi proses pembelajaran yang mengasah rasa inilah yang salah satunya menyebabkan menurunnya moralitas masyarakat modern.
Menyeimbangkan pikir dan rasa dalam praktek pasti akan menumbuhkan sifat menghargai antara satu dengan yang lain, dan kondisi ini sejalan dengan fakta betapa majemuknya masyarakat Indonesia. Hilangnya kesadaran kolektif kita sebagai sebuah bangsa yang majemuk lebih banyak disebabkan oleh ketidak-efektifan kebijakan kurikulum kita yang kurang menimbang dalam menyeimbangkan rumpun dan mata ajar yang ada.
Jika kebijakan soal distingsi kurikulum ini terus diabaikan, jangan harap tujuan pendidikan nasional seperti tertera dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 akan mampu diwujudkan. Kebijakan pendidikan yang saat ini lebih berorientasi pada hasil pasti akan berdampak buruk bagi masa depan Indonesia. Tujuan, hakikat dan pemaknaan pendidikan yang serba hasil ini memperlihatkan lemahnya sistem pendidikan yang dibangun, sehingga elan dasar pendidikan kita seakan tak pernah bertemu dengan jiwa atau ruh yang selalu menjadi batang tubuh pendidikan nasional, yaitu “berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Sangat tidak mungkin rasanya jika pembuktian seluruh agenda pendidikan nasional seperti tertera dari tujuan di atas diselesaikan oleh sebuah mata rantai yang bernama ujian nasional (UN) sebagai bentuk pertanggungjawabannya. Hampir semua indikator dan tujuan pendidikan nasional di atas adalah sebuah nafas panjang dari sebuah usaha dan proses yang tidak akan pernah berakhir (never ending process), karena hampir semua pilihan kata yang digunakan adalah kata sifat (adjective) yang menuntut usaha secara terus menerus.
Kombinasi pikir dan rasa yang efektif akan melahirkan arti dan nilai (meaning and value) yang berkelanjutan dalam perilaku siswa. Dialektika antara otoritas pendidikan, sekolah, masyarakat dan siswa seharusnya mencerminkan visi dan filosofi pendidikan yang sehat, yang ditunjukkan pada keseimbangan struktur kurikulum dan proses belajar-mengajar yang benar, aktif dan menyenangkan. Kebijakan soal kurikulum kita saat ini seakan memperpendek visi pendidikan menjadi sekedar tumpukan soal dan membuang lebih banyak waktu untuk melakukan drilling dalam rangka mempersiapkan siswa mereka dalam menghadapi ujian (Jones: 1999). Di ambil dari KickAndy