Disebuah bangunan kecil yang sangat sederhana, batu demi batu disusun untuk bisa ditempati dengan layak, disana hidup seorang kakek seorang diri mencintai suatu karya seni, membentuk lembaran kayu dengan teliti dan sabar ia membuatnya dengan penuh cinta, lihatlah maka kamu akan tau jika itu cinta, sangat teliti menentukan lubang dan memasang tali senar sangat diperhatikan kakek ini tak ingin jika apa yang dibuatnya menjadi sia-sia hingga jadilah sebuah hasil. apa yang kalian bayangkan? yang dibuat seorang kakek itu? ia membuat biola yang akan dijual nantinya. "Mami ayo kita ketoko seberang yang menjual alat musik." "Apa yang ingin kau lakukan ditoko ilu Alex?" Alex tidak pandai bermain alat musik, baik untuk lebih tepatnya ia tidak pernah memegang alat musik sebelumnya, apa yang membuat Alex berlari dan menginginkan masuk toko musik itu. "Wah, Mami bisakah aku menggunakan ini?" dengan tangan menunjuk kearah biola "Alex sayang, kamu bisa memainkan semua alat musik ini," "oh benarkah?" "Tentu saja, hanya tidak semudah itu, Alex perlu belajar untuk bisa memainkan alat musik." "Bisakah kita membelinya satu? lalu kita mencobanya." "pilihlah satu yang kamu suka sayang." Mami alex membiarkannya memilih apa yang anaknya mau dan hanya mengawasi dari kejauhan. Alex berlari dan menghampiri Maminya tanpa membawa apapun. "Hei, mana pilihanmu? sudah ada yang kamu suka?" "Mami aku menyukai satu alat musik disana, seperti gitar hanya dia memiliki tongkat." Alex menjelaskan apa yang ia lihat kepada Maminya "Ayo kita kesana dan Lihat apa yang kamu temukan." Alex dan ibunya berjalan menyusuri ruang alat musik hingga tepat berada diujung ruangan "Biola, ini yang kamu lihat?" Alex mengangguk dengan raut wajah yang bingung "Biola? seperti apa memainkannya?" aku tak pernah melihatnya sebelumnya." sebelum Mami Alex sempat menjelaskan kepada anaknya "Baiklah sudah kuputuskan, aku ingin biola ini." keluar dari dengan membawa biola, Alex tampak begitu senang dengan apa yang dia dapat "kapan aku bisa berlatih?" "Kapanpun kamu mau." "Ah, benarkah?" Alex memeluk dan mecium maminya. "Aku ingin mulai besok, apa bisa?" "Tentu saja." "Tapi siapa yang akan mengajariku?" "Mami punya teman yangt akan mengajari mu biola." hari sudah berganti dengan hal baru yang akan Alex lalui Mami Alex memiliki usaha Chattering dan papi alex bekerja disalah satu perusahaan coklat. "Hallo Alex apa kabar?" sapa guru les yang akan mengajari Alex sekaligus teman dari maminya. "Hallo, aku sudah menunggu untuk hari ini, tentu kabar ku menyenangkan." Namanya Christie profesinya memang berhubungan dengan bidang seni "Baik jika begitu mari kita mulai belajar biola." Alex berusaha keras untuk bisa memainkan biola tak hanya itu Alex begitu menghayati setiap note yang dimainkan. hampir setiap waktu kini Alex bermain biola "Alex, seberapa jauh kini kamu bisa memainkan biola?" suara itu terdengar dari arah meja kerja papi Alex, "Papi." Alex berlari dan memeluknya, menceritakan betapa luar biasa kini ia untuk bermain biola "jika begitu tunjukkan pada papi kehebatanmu." "itu harus, karena papi harus meliaht ku bermain." "Apa hanya papi saja yang ingtin kau tunjukkan?" suara dari lorong dapur "Baiklah, sekarang semua duduklah aku akan memainkannya."
Alex tak pernah meninggalkan biola itu, meskipun tak jarang permainan biolanya tak sebagus saat dia merasa menguasainya, hanya kini Alex kurang menghargai bagaimana awal ia ingin mendapatkan biola itu, tak jarang Alex menggunakan biola untuk hal-hal yang tidak seharusnya, Alex menggunakannya untuk bermain ketapel dengan kucing saat temannya datang mengajak Alex bermain Alex lupa menaruhnya tak sesuai tempat, kadang tejatuh dari meja hingga menggunakan untukl bermain batu hingga senar biola putus dan kini Alex menaruhnya digudang, tidak lagi bermin dengan biola. Biola kini hanya menjadi barang yang tak berharga dan menjadi barang pajangan usang yang tak tersentuh lagi. Biola itu kini dijual kembali ketoko bekas, suatu ketika ada pelelangan barang-barang bekas. sipelelang barang menjual barang awal, buku yang memiliki nilai sejarah yang menarik yang berhasil dilelang dengan harga Rp1.850.000, "berikutnya akan saya jual bebek twins, 100ribu, 400ribu." hingga berakhir di angka 965.000. sampai pada di penghujung pelelangan dengan barang terakhir yang ditunggu. "Sekarang mana barang terakhir itu?" "Ini tuan," "Apa ini? Biola tua." "Hanya ini yang tersisa tuan." "Apa tidak ada barang yang lain?" "sudah tidak ada tuan." pelelang tidak yakin jika biola ini mampu terjual dengan harga yang menarik, didalam benaknya pembeli tidak akanb berminat. mau tidak mau barang itu dikeluarkan dengan tawaran yang sangat murah "250.000, ayo 250.000 iya satu orang ada lagi? iya dua pembeli , 350.000 biasa yang mau?" dengan waktu yang lama sekali "satu pembeli." pelelang mengulang kembali harga yang ditawarkan kepada penawar hingga 3x. dari arah kejauhan ada yang berjalan menghampiri sipelelang bapak tua berambut putih, apa yang ingin dia lakukan? membelinya itu yang terlintas dibenakku. benarkah ingin membelinya?" Bapak tua berambut putih tepat berdiri dihadapan sipelelang dan mengambil biola dari tangannya, dia membersihkan biola tua itu dan tak terlintas dia memainkan bila tersebut dengan sangat bagus dan indah. semua mata melihat dengan penuh kagum setelah memainkannya bapak berambut putih itu langsung pergi begitu saja meninggalkan biola. "harga menjadi 4.000.000" penawaran biola menjadi tinggi. hingga menemukan pembeli yang berani membeli dengan harga tinggi 10.000.000. biola tua itu terjual dengan harga yang sangat fantastik, yang semula tak ada yang berminat membelinya hingga menjadi tawaran dengan harga jual tertinggi. apa yangt membuat biola menjadi luar biasa? sentuhan dari sang pencipta biola yang membuat biola memiliki nilai yang tinggi. apapun yang diperbuat berdasarkan cinta takkan akan berakhir dengan sia-sia.
sama halnya dengan kehidupan yang kita lalui meskipun kita dibuang, dikucilkan tidak ada dianggap dan merasa tidak berarti, saat Sang Pencipta TUHAN ikut campur kita mampu diubahkan menjadi luar biasa dari sekedar apa yang kita bayangkan.
Happy day Guys XD
Rabu, 27 Mei 2015
Biola Tua
19.26
No comments
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar